Corporate Wellness 2.0 adalah evolusi dari program kebugaran kantor dari yang tadinya sekadar senam pagi atau fasilitas gym menjadi lebih holistik, fleksibel, dan berbasis data. Fokusnya bukan hanya pada kebugaran fisik, tetapi juga kesehatan mental dan pencegahan cedera untuk meningkatkan produktivitas serta performa karyawan.
Program ini penting karena bisa disesuaikan dengan gaya kerja modern seperti hybrid, remote, dan jam kerja fleksibel lainnya. Selain itu, karyawan yang aktif bergerak terbukti memiliki fokus, energi, dan kualitas kerja yang lebih baik. Pasalnya, pendekatan mikro seperti movement snacks dan breathing reset membantu menurunkan stres harian sebelum menumpuk.
Corporate Wellness 2.0 juga bisa menjadi program preventif untuk mengurangi risiko nyeri punggung, leher, obesitas, dan penyakit metabolik akibat kebiasaan duduk terlalu lama saat bekerja. Apalagi, perusahaan dengan wellness culture kuat akan lebih menarik bagi talenta muda (Gen Z & Milenial).
Corporate Wellness di Indonesia
Di Indonesia, program kebugaran di tempat kerja semakin populer terutama untuk meningkatkan produktivitas karyawan, mengurangi absensi karena sakit, dan menurunkan biaya kesehatan perusahaan. Meskipun belum wajib secara ketat, ada dukungan dari regulasi pemerintah seperti:
- Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), yang mendorong perusahaan menyediakan program kebugaran, konseling, dan dukungan kesehatan mental untuk karyawan.
- UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa pengusaha wajib menjamin keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang dapat mencakup aspek promosi kesehatan.
- Program Indonesia Sehat dari Kementerian Kesehatan yang mendorong promosi kesehatan di semua setting, termasuk tempat kerja.
- Pedoman Workplace Health Promotion (WHP) dari Kementerian Kesehatan untuk mendorong perusahaan menerapkan lingkungan kerja sehat.
- PP Nomor 28 Tahun 2024 yang menggantikan PP No. 88 Tahun 2019 dan memperkuat pelaksanaan UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023. Aturan ini mewajibkan pengelola tempat kerja untuk menyelenggarakan upaya kesehatan kerja yang terpadu dan menyeluruh.
- Permenkes No. 48 Tahun 2016 yang mengatur standar K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) khususnya di lingkungan perkantoran, mencakup aspek ergonomi dan aktivitas fisik.
Tren Corporate Wellness 2.0 di Indonesia umumnya mencakup active break di tengah meeting, program wellness berbasis komunitas kantor, kolaborasi HR dengan pelatih fungsional, hingga fokus program pada longevity & sustainable performance.
Apa saja inti gerakan dalam Corporate Wellness 2.0?
- Micro-Movement & Movement Snacks
Latihan singkat 1–5 menit yang bisa dilakukan di sela kerja, cocok apabila kamu bekerja di kantor yang belum memiliki ruang olahraga. Beberapa contohnya adalah mobility leher & bahu, squat ringan atau desk push-up, serta stretch pinggul dan punggung bawah. - Posture & Mobility Training
Fokus pada koreksi postur akibat duduk lama, latihan ini bisa dilakukan sambil duduk dan berdiri. Ada juga beberapa jenis gerakan yang diperuntukkan bagi mobility tulang belakang. serta aktivasi core & glutes. - Mental Fitness & Stress Management
Latihan pernapasan 2–3 menit, mindful movement, dan active break anti-burnout adalah beberapa contoh corporate wellness yang berfokus pada kondisi mental ini. - Hybrid & Digital Wellness
Corporate wellness 2.0 tidak hanya menyertakan kesehatan psikis, tetapi juga mengintegrasikan teknologi digital untuk performa yang lebih efektif. Dalam hal ini, video latihan on-demand, tantangan kebugaran berbasis aplikasi, dan tracking sederhana untuk step atau konsistensi gerak bisa dimanfaatkan dengan optimal. - Functional Longevity Approach
Agar kesehatan tubuh dan mental tetap sustainable, corporate wellness 2.0 juga menekankan latihan untuk sehat jangka panjang, bukan sekadar kurus atau kuat. Yang menjadi fokus dalam hal ini adalah keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan fungsional.
Contoh program kebugaran yang umum di Indonesia
Banyak perusahaan dan instansi pemerintah di Indonesia sudah menerapkan program latihan di lingungan kerja, mulai dari yang sederhana hingga komprehensif. Berikut beberapa contoh populernya:
Senam Kebugaran Jasmani (SKJ) atau Senam Pagi Rutin
Dilakukan setiap Jumat pagi di kantor-kantor pemerintah, latihan ini melibatkan gerakan sederhana mengikuti irama musik dengan durasi 30-60 menit. Karyawan bisa meningkatkan stamina, melancarkan peredaran darah, mengurangi stres, dan mempererat silaturahmi karena ini merupakan jenis olahraga berkelompok. Praktisi kesehatan merekomendasikan SKJ minimal 1-2 kali seminggu dengan durasi 30 menit per sesi.
Kelas Olahraga di Kantor
Yoga, zumba, pilates, atau peregangan (stretching) juga bisa menjadi sesi latihan bersama di kantor untuk mengurangi nyeri otot akibat kurang gerak. Diadakan setelah jam kerja atau saat istirahat, jenis latihan kebugaran ini sering dilakukan dengan instruktur profesional.
Office Gym atau Subsidi Fitness
Ruang kebugaran khusus di kantor dengan alat cardio (treadmill, sepeda statis) dan weight training bisa menyediakan peluang fitness di tempat kerja. Beberapa perusahaan besar menyediakan ini atau memberikan subsidi membership untuk gym di luar kantor. Fasilitas fitness bisa membantu karyawan tetap aktif, mengurangi risiko penyakit kronis, dan meningkatkan mood melalui pelepasan endorfin.
Tantangan Kebugaran (Fitness Challenge)
Kompetisi seperti “tantangan 10,000 langkah sehari” bisa diadakan untuk menumbuhkan kompetisi sehat sekaligus melatih kebugaran karyawa. Ada pula kontes-kontes lain seperti lomba tim atau program penurunan berat badan. Untuk pengukuran optimal, corporate wellness ini sering dikombinasikan dengan aplikasi tracking sebagai alat monitoring.
Program Kesehatan Komprehensif
Tak hanya jadwal latihan fisik dan penggunaan alat kesehatan, corporate wellness 2.0 yang masuk di Indonesia juga sudah menyertakan pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up), edukasi nutrisi (kantin sehat atau camilan buah), dan dukungan mental (konseling). Beberapa perusahaan bahkan bekerja sama dengan lembaga seperti Naluri, LIF Indonesia, atau MantraCare untuk program digital wellness.
Tantangan dan tips sukses Corporate Wellness 2.0
Meski sudah direncanakan sedemikian rupa, jam kerja panjang dan beban kerja tinggi sering menjadi alasan karyawan tidak berpartisipasi dalam program-program latihan kebugaran di kantor. Selain itu, tidak semua perusahaan memiliki ruang atau dana yang cukup untuk fasilitas gym.
Karyawan bisa memiliki preferensi olahraga yang berbeda-beda, bahkan beberapa di antara mereka mungkin belum menyadari pentingnya aktivitas fisik.
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, ada beberapa kiat sukses yang bisa diterapkan sebagai berikut:
- Pastikan program latihan sederhana, inklusif (mencakup semua level kebugaran), serta tidak mengganggu jam kerja.
- Cari dukungan manajemen dan role model dari pimpinan.
- Buat konsep latihan yang konsisten tapi efektif, bukan ekstrem.
- Mulai dengan program yang sederhana. Misalnya, Senam Jumat pagi atau peregangan setiap jam 10:00 dan 14:00, jalan kaki bersama saat istirahat siang, dll.
- Libatkan karyawan dalam penyusunan rencana latihan. Survei apa yang mereka inginkan.
- Buka kerja sama dengan pihak ketiga untuk kelas profesional atau aplikasi monitoring. Instruktur kebugaran atau ahli gizi juga bisa diundang untuk sesi edukasi kesehatan.
- Integrasikan dengan K3 agar sesuai regulasi untuk lingkungan kerja sehat.
- Sediakan standing desk atau bola stabilitas di kantor.
- Buat grup olahraga bersama (lari, badminton, tenis meja, futsal) di luar jam kerja.
- Buat menyenangkan dan tidak memaksa. Program latihan kesehatan di kantor harus bersifat sukarela dan rekreatif.
- Berikan insentif. Hadiah kecil seperti merchandise, voucher, atau pengakuan dapat meningkatkan partisipasi karyawan.
- Monitor dan evaluasi partisipasi untuk menilai efektivitas program corporate wellness 2.0 secara berkala.
Penutup
Corporate Wellness 2.0 bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan investasi strategis untuk karyawan yang lebih sehat, produktif, dan loyal. Di era kerja modern, perusahaan yang peduli pada kesehatan holistik akan unggul secara budaya dan kinerja.
Bagi karyawan, kesehatan fisik dan mental yang terjaga akan mengurangi tingkat stres dan kelelahan (burnout), meningkatkan kebugaran jantung dan otot, meningkatkan kepuasan kerja dan loyalitas, serta menurunkan risiko penyakit akibat kerja
Sedangkan bagi perusahaan, merancang program corporate wellness 2.0 yang baik dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja tim, mengurangi angka absensi karena sakit, membangun citra positif perusahaan, serta mengurangi biaya klaim asuransi kesehatan jangka panjang.
Dengan kata lain, tidak ada pihak yang dirugikan oleh program latihan dan kesehatan di tempat kerja. Pemerintah pun sudah menganjurkannya melalui sejumlah aturan yang telah disebutkan di atas.
Jadi, mulailah dengan langkah kecil dan bangun secara bertahap untuk menciptakan budaya sehat yang berkelanjutan.



