Latihan untuk memperkuat otot inti (core) biasanya identik dengan plank, sit-up, crunch, atau leg raise. Namun ternyata, ada metode latihan yang jauh lebih lembut sehingga relatif mudah dilakukan, yakni hypopressive exercise.
Berbeda dengan latihan core konvensional yang melibatkan kontraksi kuat otot perut, hypopressive exercise memanfaatkan teknik pernapasan dan pengaturan tekanan dalam rongga perut untuk mengaktifkan otot-otot inti secara refleks. Dengan demikian, latihan fisik ini dapat bermanfaat bagi stabilitas tubuh, postur, hingga kesehatan dasar panggul.
Di kalangan fisioterapis, hypopressive exercise sangat populer karena efektif meningkatkan stabilitas tubuh tanpa memberikan tekanan berlebihan pada tulang belakang maupun dasar panggul. Selain itu, pelatih kebugaran dan atlet juga banyak yang menerapkan latihan ini.
Mengenal Hypopressive Exercise Lebih Dekat
Hypopressive exercise pertama kali dikembangkan pada tahun 1980-an oleh fisioterapis asal Belgia, Marcel Caufriez. Bermula dari latihan untuk membantu pemulihan wanita setelah melahirkan, rutinitas ini kemudian berkembang menjadi serangkaian latihan postur dan pernapasan yang bertujuan menurunkan tekanan intra-abdomen.
Kata hypopressive sendiri berarti “tekanan rendah.” Alih-alih meningkatkan tekanan pada rongga perut seperti sit-up, hypopressive exercise justru berusaha menguranginya.
Ada tiga komponen utama dalam hypopressive exercise, yaitu:
- Mempertahankan postur tubuh yang baik.
- Mengontrol pola pernapasan.
- Melakukan apnea ekspirasi.
Sebagai informasi, apnea ekspirasi adalah menciptakan cipta efek “vakum” pada rongga perut dengan menahan napas setelah menghembuskan udara sambil membuka tulang rusuk.
Efek tersebut membantu mengaktifkan otot-otot dalam seperti transversus abdominis, diafragma, multifidus, dan otot dasar panggul secara otomatis.
Cara Melakukan Hypopressive Exercise Dasar
- Berdiri tegak dengan lutut sedikit ditekuk.
- Panjangkan tulang belakang dan rilekskan bahu.
- Tarik napas perlahan melalui hidung, kemudian buang seluruh udara melalui mulut.
- Setelah paru-paru kosong, tahan napas selama beberapa detik.
- Saat menahan napas, buka tulang rusuk seolah-olah sedang menarik napas tanpa benar-benar menghirup udara.
- Rasakan bagian bawah perut tertarik ke dalam secara alami.
- Tahan 5–10 detik, lalu bernapas kembali secara normal.
Lakukan langkah-langkah di atas secara berurutan sebanyak 3–5x pada awal latihan.
Informasi tambahan: Karena tekniknya cukup spesifik, banyak pelatih menyarankan belajar langsung dari instruktur bersertifikat agar gerakan dapat dilakukan dengan benar.
Posisi Dasar untuk Pemula
Jika masih pemula, mulai dari posisi berbaring telentang (supine) terlebih dulu. Ada beberapa posisi yang bisa dicoba seperti:
- Posisi dasar: Berbaring telentang, lutut ditekuk, telapak kaki menapak lantai, tangan di samping tubuh. Lakukan teknik pernapasan pada hypopressive exercise dasar di atas sebanyak 3-5x.
- Posisi 2: Kaki lurus, tangan di belakang kepala atau di samping (lengan lurus ke belakang).
- Posisi Duduk: Duduk tegak di kursi atau lantai (bersila), lakukan teknik yang sama.
- Posisi Berdiri: Kaki agak terbuka, lutut sedikit ditekuk, tubuh condong sedikit ke depan sambil menjaga punggung lurus.
Lakukan latihan 10-15 menit setiap hari di awal untuk membentuk kebiasaan, lalu kurangi frekuensinya.
Apa Pentingnya Melatih Otot Core?
Core bukan hanya sebatas “six-pack,” melainkan kelompok otot yang penting untuk menstabilkan tulang belakang, panggul, dan batang tubuh. Dengan demikian, core yang kuat akan berdampak juga pada seluruh aktivitas sehari-hari seperti berjalan, mengangkat barang, menjaga keseimbangan, hingga berolahraga.
Sebaliknya, core yang lemah dapat meningkatkan risiko nyeri punggung bawah, postur tubuh buruk, cedera saat berolahraga, keseimbangan menurun, dan gangguan stabilitas tubuh lainnya.
Karena itu, penting untuk digarisbawahi bahwa melatih core bukan hanya untuk mendapatkan perut rata, tetapi juga meningkatkan kualitas gerakan secara keseluruhan.
Apa Saja Manfaat Hypopressive Exercise?
Dengan segala ciri di atas, hypopressive exercise tidak hanya memberikan satu manfaat utama bagi core tubuh. Jika diuraikan, berikut adalah keuntungan-keuntungan yang bisa kamu dapatkan:
- Mengaktifkan Otot Inti Bagian Dalam
Otot yang menjadi fokus utama dalam hypopressive exercise adalah transversus abdominis, yaitu lapisan otot terdalam yang berfungsi seperti “korset alami” bagi tubuh. - Membantu Memperbaiki Postur
Karena latihan hypopressive dilakukan dengan posisi tubuh yang terkontrol, maka hal ini dapat meningkatkan kesadaran postur (postural awareness) yang dalam jangka panjang dapat membantu mengurangi kebiasaan membungkuk serta meningkatkan stabilitas tulang belakang. - Mengurangi Tekanan pada Dasar Panggul
Karena hypopressive exercise menurunkan tekanan intra-abdomen, latihan ini sering digunakan sebagai bagian dari program rehabilitasi setelah melahirkan atau pada individu dengan kelemahan otot dasar panggul. Namun, tetap tidak disarankan untuk menggunakan hypopressive exercise sebagai bagian dari program rehabilitasi tanpa bimbingan tenaga kesehatan yang kompeten. - Membantu Mengurangi Nyeri Punggung Bawah
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penguatan otot inti melalui hypopressive exercise dapat membantu meningkatkan stabilitas lumbopelvis. Selain itu, keluhan nyeri punggung bawah pada sebagian orang juga dilaporkan berkurang. Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa hasil hypopressive exercise untuk mengurangi nyeri punggung bawah akan berbeda pada setiap individu dan tidak menggantikan penanganan medis bila terdapat cedera atau penyakit tertentu. - Meningkatkan Kontrol Pernapasan
Karena berfokus pada teknik diafragma dan kontrol napas, hypopressive exercise juga membantu meningkatkan koordinasi antara sistem pernapasan dan otot inti.
Kesimpulan
Hypopressive exercise menawarkan pendekatan berbeda dalam melatih otot inti. Alih-alih mengandalkan gerakan berat, latihan ini memanfaatkan kombinasi postur dan teknik pernapasan untuk mengaktifkan otot-otot terdalam yang berperan penting dalam menjaga stabilitas tubuh.
Meski penelitian mengenai manfaatnya masih berkembang, hypopressive exercise dapat menjadi pelengkap bagi program latihan core, terutama apabila Anda ingin meningkatkan postur, kontrol tubuh, atau fungsi dasar panggul dengan tekanan rendah. Untuk hasil yang optimal dan aman, pelajari teknik ini bersama instruktur yang berpengalaman atau tenaga kesehatan yang kompeten.
FAQ tentang Hypopressive Exercise
Siapa yang cocok mencoba hypopressive exercise?
- Pekerja kantoran yang banyak duduk.
- Individu yang ingin memperbaiki postur.
- Orang yang ingin melatih core tanpa latihan berdampak tinggi.
- Wanita setelah melahirkan (dengan persetujuan dokter atau fisioterapis).
- Atlet yang membutuhkan stabilitas core.
Siapa yang sebaiknya berhati-hati dengan latihan ini?
Karena teknik menahan napas dapat memengaruhi tekanan di dalam tubuh, hypopressive exercise kurang disarankan untuk:
- Ibu hamil
- Penderita tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
- Penderita penyakit jantung tertentu.
- Penderita glaukoma.
- Penderita gangguan pernapasan berat.
Apabila ingin mencoba hypopressive exercise tetapi memiliki kondisi medis tertentu, ada baiknya untuk penting berkonsultasi dengan dokter dulu.
Apakah hypopressive exercise bisa menggantikan plank?
Jawabannya adalah tidak sepenuhnya.
Plank dan hypopressive exercise memiliki tujuan yang berbeda, di mana plank lebih menekankan kekuatan isometrik otot inti, sedangkan hypopressive exercise berfokus pada aktivasi otot inti terdalam, koordinasi pernapasan, serta pengaturan tekanan intra-abdomen.
Banyak pelatih justru merekomendasikan kombinasi keduanya agar bisa memperoleh manfaat yang lebih lengkap.
Apa saja kiat tambahan dalam hypopressive exercise yang bisa dilakukan untuk meningkatkan efektivitasnya?
- Fokuskan pada pengembangan rusuk lateral (ke samping), bukan mengembungkan perut.
- Jangan menahan napas terlalu lama jika baru mulai; tingkatkan secara bertahap.
- Selalu rileks antara repetisi.
- Kombinasikan dengan latihan pelvic floor lain jika diperlukan.



