Mengapa Masih Ada (Stigma) Kusta di Antara Kita?

kusta atau penyakit Hansen sering kali dianggap sebagai “penyakit masa lalu” yang hanya ada dalam buku sejarah atau cerita lama. Realitanya, sampai tahun 2024  tercatat 14.698 kasus baru kusta dengan Case Detection Rate (CDR) sebesar 5,24 per 100.000 penduduk.

Masih Ada Kusta di antara kita

Sebuah media nasional terkemuka di Indonesia pernah mengangkat betapa pilunya orang yang diberhentikan dari pekerjaannya karena mereka menderita kusta. Hampir 10 tahun kemudian, apakah stigma kepada penderita kusta masih ada, dan mengapa Indonesia kembali mencatatkan penderita kustanya menempati peringkat 3 besar di dunia?

Bagi banyak orang, kusta atau penyakit Hansen sering kali dianggap sebagai “penyakit masa lalu” yang hanya ada dalam buku sejarah atau cerita lama. Realitanya, sampai tahun 2024  tercatat 14.698 kasus baru kusta dengan Case Detection Rate (CDR) sebesar 5,24 per 100.000 penduduk. Sebaran penderita kusta meliputi beberapa daerah yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Papua ini. Direktur Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,  dr. Ina Agustina menyampaikan bahwa pada tahun 2023, Indonesia berada di posisi ketiga dunia (setelah India dan Brazil) dalam jumlah kasus baru kusta.

Kusta Tidak Mudah Menular

Kusta adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan menyerang kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernapasan bagian atas dan mata. Gejala awal penyakit kusta berupa bercak kulit berwarna merah atau putih dan mati rasa. Jika tidak diobati, maka dapat mengakibatkan deformitas fisik yang permanen pada muka, tangan dan kaki. 

Penyakit kusta menular melalui droplet dari mulut dan hidung dengan kontak erat dan sering dengan kasus kusta yang tidak diobati. Jika tidak diobati, kusta dapat menyebabkan kerusakan progresif dan permanen pada kulit, saraf, anggota tubuh, dan mata. Namun penyakit kusta sendiri merupakan penyakit yang tidak mudah menular dengan masa inkubasi rata-rata selama 5 tahun.

Baca juga:  Waspada Trombosis Vena Dalam (DVT): Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Seseorang dapat tertular kusta jika terkena percikan droplet dari pasien Kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Dengan kata lain, bakteri penyebab Kusta tidak dapat menular kepada orang lain dengan mudah, selain itu bakteri Mycobacterium leprae membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Kusta dapat menular jika terjadi kontak dalam waktu yang lama. Kusta tidak menular karena bersalaman, duduk bersama, Kusta tidak menular dari ibu ke janinnya.

Gejala Kusta:

  • Bercak Kulit: Muncul bercak putih (seperti panu) atau kemerahan yang kaku, kering, dan tidak gatal.
  • Mati Rasa: Tanda khasnya adalah bercak tersebut mati rasa (hilang sensasi sentuh, suhu, dan nyeri).
  • Kerusakan Saraf: Penebalan saraf tepi yang sering terjadi di siku dan lutut, menyebabkan kelemahan otot, kesemutan, hingga kelumpuhan tangan dan kaki.
  • Gejala Lanjut: Benjolan di wajah/telinga, bulu mata/alis rontok, dan hidung tersumbat atau rusak

Upaya Menghapus Kusta dan Stigmanya

Pemerintah Indonesia tentu saja berupaya agar Indonesia bisa meminimalkan angka penderita kusta. Tidak hanya pemerintah, namun lembaga seperti NRL Indonesia (Netherlands Leprosy Relief) secara terus menerus juga melakukannya. Lembaga ini bahkan sudah melakukannya sejak tahun 1970-an secara konsisten di Indonesia. 

Program ini tidak hanya menargetkan penurunan kasus, tetapi juga mengusung visi besar:
Zero Transmission, Zero Disability, dan Zero Stigma.

Namun, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Peran masyarakat juga sangat penting—terutama dalam mengubah cara pandang terhadap kusta.

Kapan Indonesia Bebas (Stigma) Kusta?

Indonesia sempat merayakan pencapaian Eliminasi Kusta Tingkat Nasional pada tahun 2000, dengan prevalensi di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk. Namun, perjuangan tidak berhenti di sana karena kusta masih “bersembunyi” di kantong-kantong wilayah tertentu.

Baca juga:  Sindrom Alice in Wonderland, Ketika Semua Benda Menjadi Lebih Besar / Kecil dari Ukuran Aslinya

Beberapa strategi kunci yang dijalankan hingga saat ini meliputi:

  • Active Case Finding: Petugas puskesmas melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah di wilayah endemik.
  • Chemoprophylaxis: Pemberian dosis tunggal Rifampisin kepada kontak erat penderita untuk memutus rantai penularan.
  • Digitalisasi Surveilans: Memasuki tahun 2026, penggunaan aplikasi pemetaan berbasis GIS (Geographic Information System) memungkinkan pemerintah melacak klaster baru secara real-time.

Ada empat alasan utama mengapa kusta belum sepenuhnya hilang dari negeri ini:

  1. Kurangnya pengetahuan masyarakat. Banyak orang tidak mengenali gejala awal: bercak putih atau kemerahan di kulit yang mati rasa, kulit kering, atau kesemutan di tangan dan kaki.
  2. Stigma dan diskriminasi. Penderita sering disalahpahami dan dikucilkan. Padahal mereka tidak berbahaya jika sudah menjalani pengobatan.
  3. Akses layanan kesehatan yang terbatas. Di wilayah terpencil, deteksi dini kusta masih sulit dilakukan.
  4. Keterlambatan diagnosis. Banyak penderita baru datang berobat setelah penyakitnya parah dan menyebabkan cacat permanen.

Kalau Ada Keluarga atau Teman Terkena Kusta, Apa yang Harus Dilakukan?

Hal pertama: jangan panik dan jangan menjauhi.
Kusta tidak mudah menular, apalagi bila penderita sudah menjalani pengobatan MDT (Multi-Drug Therapy). Justru, dukungan emosional dan sosial sangat dibutuhkan agar mereka tidak merasa dikucilkan.

Yang bisa dilakukan:

  • Dampingi mereka berobat. Obat MDT tersedia gratis di semua puskesmas, dan bila diobati sejak dini, penderita dapat pulih total tanpa cacat.
  • Berikan dukungan moral. Jangan memperlakukan mereka berbeda.
  • Edukasi orang sekitar. Beritahu bahwa kusta bisa sembuh.
  • Lindungi keluarga lain dengan menjaga kebersihan dan segera periksa jika muncul gejala mencurigakan.

Dengan sikap peduli, kita membantu memutus rantai penularan sekaligus menghapus stigma yang menyakitkan. Dukung Eliminasi Kusta, Hilangkan Stigma!

Avatar untuk Yanne E.S

Tentang Penulis

Ibu penuh waktu yang hobi berenang, piknik, menulis, membaca. Peduli kesehatan dan kesejahteraan sesama makhluk bumi. Alumni Pelatihan Terapis Kinesio Indonesia.

Bagikan

Referensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebelumnya

Latihan Fisik untuk Ibu Rumah Tangga: Rutinitas 10 Menit Saat Anak Tidur

Program Latihan

Killer Abs

Kesulitan

Mudah

10

menit

Alat

Tanpa Alat

Otot

Fleksor Pinggul, Inti (Core), Perut Bawah, Perut Samping, Perut Six Pack

Killer Abs

Bakar Kalori & Lemak Workout

Kesulitan

Menengah

13

menit

Alat

Tanpa Alat

Otot

Betis, Bokong, Fleksor Pinggul, Hamstring, Paha Depan, Perut Six Pack

Bakar Kalori & Lemak Workout

Full Body – Membara!! Workout

Kesulitan

Susah

6

menit

Alat

Pull-up Bar

Otot

Betis, Dada, Hamstring, Paha Depan, Sayap / Lats, Trapezius, Trisep

Full Body – Membara!! Workout

Lihat semua program latihan