Siang yang terik, Saraswati ditemani segelas besar es jeruk nipis, santai menggulirkan potongan video di Youtube. Mendadak ia duduk tegak! Sesudah meneguk hampir seperempat es jeruknya, setengah berlari ia menghampiri Opa Hans. “Opaaaa, Saras ganggu sebentar ya, ada yang rusuh di otak nih Opa!” Saras menghambur laksana terbang, seraya menyeret kursi rotan, ia duduk di depan Opanya. Lalu ia tunjukkan layar gawai sembari menggulirkannya. “Hmmm, ini mudah jawabnya. Mari sini, ikut Opa ke kebun samping. Opa Hans adalah pemerhati tanaman herbal. Beliau menanam banyak tanaman pangan dan obat di kebun samping rumah mereka. Literatur tentang tanaman pangan dan obat dari berbagai bahasa dan tempat, menghuni sebagian besar rak di perpustakaan pribadi mereka. Opa menuju ke pepohonan, di mana di antara daun-daun lonjong memanjang yang rimbun, menyembul buah-buah panjang berwarna merah, oranye, kuning dan hijau berpadu indah, jalin menjalin. “Saras lihat ini, inilah tanaman Cabya (Piper retrofractum) atau ada yang mengenalnya sebagai Cabe Jawa, cabhii solah (Madura), cabia (Sulawesi), cabe areuy/leuweung (Sunda). Tanaman asli nusantara, digunakan sejak berabad-abad lalu. Jadi, kurang tepat kalau orang mengatakan, Indonesia mengenal makanan pedas dari budaya di luar Indonesia sejak masuknya capsicum yang berasal dari Amerika.” “Cabai dari jenis capsicum seperti yang umum kita kenal sekarang, memang berasal dari luar Indonesia. Namun leluhur kita menggunakan Cabya sebagai pemedas dalam makanan dan sebagai bagian dari kesehatan.”
Opa lalu mengajak Saraswati kembali ke ruang baca. “Kalau kamu masih tertarik dengan cabya ini, Opa akan tunjukkan beberapa literaur baik buku ataupun situs internet ya.” Saras tanpa berpikir panjang langsung mengangguk. “Setuju Opa. Lagipula saat ini banyak pandangan masih simpang siur tentang cabya ini. Ada yang mengatakan, fungsinya hanya sebagai jamu namun ada juga resep masakan nusantara yang menggunakannya sampai saat ini. Let’s go Opa!” tukas Saras kemudian. “Baik, duduk tenang di situ, mari kita lihat satu demi satu literature yang Opa punya. Oya, Opa juga sudah minta Bi Sulis membuat makanan dan minuman untuk kita nikmati sore nanti, menggunakan cabya kebun kita. Yuk lanjut!” kata Opa sejurus kemudian.
Cabya Tanaman Asli Nusantara
Cabya (Piper retrofractum) adalah tanaman daerah tropis asli Indonesia yang dijumpai juga di negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, dan sejak dahulu telah digunakan secara turun-temurun sebagai bahan tambahan makanan ataupun obat tradisional. Di Indonesia Cabai Jawa banyak ditemukan terutama di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan. Berdasarkan penelitian ahli sejarah, tanaman ini telah digunakan sebagai bahan makanan dan kesehatan sejak abad 10 Masehi, sebelum masuknya cabai yang kita kenal sekarang pada abad 16 dari Amerika Selatan.
Tanaman ini dapat tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian 600 m dpl, suhu 20-30°C, kelembapan 40-80%, curah hujan minimal 1.300-2.500 mm/th. Menyukai tempat terbuka dan cukup sinar matahari. Tumbuh baik di tanah lempung berpasir, gembur pada pH tanah 4-8 dan berdrainase baik. Termasuk tanaman merambat sehingga memerlukan penopang. Pembiakan dilakukan dengan biji atau stek batang.
Produknya telah dikenal oleh orang Romawi sejak lama dan sering dikacaukan dengan lada. Di Indonesia sendiri buah keringnya digunakan sebagai rempah pemedas. Sebelum kedatangan cabai Capsicum spp, tumbuhan inilah yang disebut “cabai” dari namanya Cabya.
Kandungan pada Cabai Jawa
Sama seperti rempah lainnya, cabai jawa juga mengandung nutrisi dan vitamin alami yang bagus untuk kesehatan diantaranya adalah alkaloid, asam amino bebas, beta sitosterol, glikosida, piperin, resin, gula, lemak jenuh, minyak atsiri, piperatin, piplartin, piperidin, saponin, polifenol, linalool, asam palmitik, dan zat pedas piperin 4-6%.
Manfaat Bagi Kesehatan Tubuh
Secara tradisional di masyarakat, buah cabe jawa dapat digunakan dalam ramuan untuk mengobati demam, flu perut kembung, mulas, muntah, mengatasi gangguan pencernaan, merangsang nafsu makan, dan lemah syahwat. Akarnya sering digunakan untuk mengobati sakit gigi, luka dan kejang, serta bagian daunnya digunakan juga untuk obat kumur. Selain itu, cabai jawa sangat efektif untuk mengatasi rematik, asam urat, dan nyeri sendi. Tanaman ini mengandung senyawa piperin yang memiliki sifat anti-inflamasi (anti-radang) dan analgesik (pereda nyeri) alami. Sifat hangat dari cabai jawa juga membantu melancarkan peredaran darah di sekitar sendi yang kaku. Di bidang pertanian, cabya dimasukkan dalam insektisida nabati dan pernah dilakukan untuk mengobati tanaman padi dan tomat. Berikut contoh pemanfaatan cabe jawa.
1. Asam urat
Siapkan 2,5 gr akar cabe jawa kering. Potong tipis-tipis. Rebus dengan 3 gelas air bersih hingga airnya tersisa 1 gelas. Angkat dan saring.Minum 2 kali sehari, masing-masing ½ gelas.
2. Sakit gigi
Cuci bersih daun cabe jawa sebanyak 3 lembar lalu tumbuk halus. Seduh dengan ½ gelas air panas. Saring air tersebut, selagi hangat gunakan air tersebut untuk kumur-kumur
Untuk penggunaan lebih praktis, sudah banyak produk berupa kapsul atau ramuan herbal siap pakai memanfaatkan khasiat cabya.Masyarakat Jawa mengenal jamu bernama cabe puyang. Cabe puyang berkhasiat untuk meningkatkan stamina dan pegal linu. Ada juga yang meresepkan dalam minuman bandrek untuk menghangatkan badan dan mencegah masuk angin. Bahkan khusus untuk lemah syahwat, sekarang sudah ada kapsul khusus untuk mengatasinya dengan bahan dasar dari cabya ini.
Cabya juga lazim digunakan dalam masakan gulai, soto, sop rempah dan beberapa masakan khas nusantara lainnya. Selain fungsi pemedas, ia juga menghilangkan bau amis daging dalam masakan.
Meskipun banyak khasiat dan kegunaannya, penggunaan dalam dosis tinggi atau berlebihan bisa mengganggu lambung. Gunakan sesuai dosis atau takaran yang disarankan jika menggunakannya dalam bentuk siap saji. Dan gunakan secara bijaksana jika menggunakan bentuk kering atau segar dalam konsumsi harian.
Opa menutup percakapan sore itu ketika Bi Sulis mengisyaratkan bahwa makanan telah siap. Di ruang makan, Saras mencium sedapnya rawon dengan sambal, tauge segar, telur asin dan setoples besar kerupuk udang. Dan ia dikejutkan dengan minuman berupa es sparkling cabe jawa, yang segar dengan sensasi ledakan lembut ketika diteguk. Sungguh kaya nusantara tercinta. Saras berjanji pada Opa Hans kelak akan memperdalam ilmunya dengan mengambil studi tentang tanaman herbal agar dapat melestarikan warisan leluhur dan dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak orang dengan mudah dan murah.



